Jumat, 26 Desember 2014

SEKEDAR MENGENANG SEJARAH JEMBATAN PLENGKUNG MANGUNSARI

Oleh
Agus Ali Imron Al Akhyar




Sejarah merupakan sebuah tragedi yang menarik untuk diceritakan dan tidak hanya sekedar untuk dipelajari, terutama mengenai kesejarahan lokal yang ada di daerah masing-masing. Keberadaan sejarah lokal, memiliki nilai positif bagi sebuah generasi untuk memahami hakikat keberadaan sejarah daerahnya. Sehingga sejarah lokal memiliki
peran penting didalam membangkitkan gairah sebuah daerah, dengan adanya sebuah sejarah, maka terwujudlah sebuah generasi-generasi yang akan membentuk peradaban sejarah. Sejarah menjadi wejangan penting untuk generasi muda, sejarah dapat dijadikan media pembelajaran anak didik. Meskipun kadang sejarah juga menyimpan keburukan masa lalu, namun tidak bisa dipisahkan bagi sebuah generasi yang akan menilainya.

Keberadaan suatu daerah pasti menyimpan potensi kesejarahan yang masih belum terungkap secara baik. Maka dari situlah setiap generasi memiliki sudut pandang berbeda-beda mengenai etape kesejarahan lokal. Keberadaan sudut pandang mengenai kesejarahan lokal tersebut tentunya tidak menjauhi unsur sumber data yang valid dan tanpa adanya penafsiran secara brutal. Mayoritas saat ini penafsiran-penafsiran mengenai keberadaan sejarah sudah sedikit menyimpang dari sumber data baik tertulis, arkeologi, maupun sumber informan yang berkompetensi. Keberadaan sejarah terutama dalam sudut pandang sumber informan, yang saat ini sudah mulai lenyap atau disunyikan dalam kehidupan alias meninggal dunia. Sehingga “mumpung” yang mengetahui dan mengalami suatu pristiwa sejarah masih mumpuni keberadaannya, setidaknya kita adakan wawancara, meskipun mengenang yang pahit, bagi kita adalah sebuah pelajaran baru bagi suatu generasi.

Sejarah tidak kenal lelah untuk diolah, diteliti, dan dituangkan dalam bentuk tulisan dokumentasi, sejarah memberikan nilai-nilai yang mampu ditafsirankan menurut sudut pandang setiap generasi. Sehinga sejarah mampu mengedepankan nilai-nilai karakter yang akan menjadi proses belajar pada suatu generasi yang baru. Untuk itulah tulisan ini mewakili keberadaan kesejarah daerah Tulungagung, dalam konteks sebuah jembatan yang menjadi saksi kesejarahan daerah Mangunsari, masyarakat sering menjulukinya Jembatan Plengkong.

Sejarah dan Generasi
Sebagai generasi baru “muda”, tentu kita memiliki jiwa untuk sekedar mengetahui, memahami, dan mencintai keberadaan sekitar daerah kita. Sejarah yang memiliki wacana yang luas, tentu mampu membuka akal sehat kita sebagai suatu generasi untuk mempelajarinya. Sejarah merupakan sebagian dari wacan masa lampau yang akan dimultitafsirkan oleh sebuah generasi berikutnya, dan itu didalam menafsirkannya juga memerlukan metodolodi penelitian, sumber data, sumber informan, dan juga pendukung lainnya. Setiap generasi memiliki sudut pandang sendiri, sehingga yang paling menguatkan dalam pencarian sumber data adalah keberadaannya data yang paling dasar, data yang akurat keberadaannya, mulai dari terhitung keberadaan tahun, dan sudut pandang sumber sejarah lainnya, serta yang terpenting adalah mengetahi sumber aslinya, bukti sejarah.

Keberadaan suatu generasi dan adanya sebuah pembelajaran suatu sejarah, merupakan langkah yang positif untuk memberikan wawasan secara utuh bagi generasi. Pemberian wawasan sejarah dalam maksud utuh, adalah dengan adanya pembelajaran wawasan kesejarahan, maka setidaknya bagi suatu generasi memiliki pondasi dasar dalam memahami sebuah hakikat kehidupan, yang mempelajari sejarah. Menjadikan sejarah sebagai media alat dalam pencapaian hidup, bagi generasi muda itu sangat baik dan tentu memiliki kebangunan karakter yang kuat.

Sejarah dalam kondisi apapun tetap akan menyimpan berbagai petunjuk maupun pembelajaran dalam diri sebuah generasi. Mayoritas kesejarahan yang bernuansa lokal sering diabaikan dengan kata-kata, tidak perlu lagi kita belajar sejarah, memosankan. Sehingga dengan problema seperti itu, perlunya inovasi pengenalan, pembelajaran terhadap keberadaan sejarah itu sendiri. Sangat disayangkan apabila suatu generasi nantinya tidak mengenali keberadaan sejarah lokalnya.

Jembatan Plengkung Mangunsari
Pada jaman penjajahan Pemerintah Kolonial Belanda di daerah Tulungagung pada tahun 1925, Belanda ingin menghubungkan pusat perdagangan dengan pusat pemerintahan di Kabupaten Tulungagung. Belanda tidak mau bersusah payah menggunakan perahu untuk menyebrang, Bangsa Eropa ini pun berfikir ingin membangun sebuah jembatan untuk melancarkan aktifitas dari pusat perdagangan ke pusat pemerintahan pada saat itu. Namun, bangsa Belanda mendapat nasehat dari sesepuh setempat untuk mengadakan suatu sayembara ”bagi siapa saja yang bisa melompati sungai dari barat ke timur atau dari timur ke barat akan di beri hadiah dibangun kan jembatan”.

Jika orang sekitar bisa melompati sungai selebar kurang lebih 45 meter itu maka orang tersebut memiliki kesaktian dan jika orang sakti itu diberi hadiah bangunan jembatan, dia pasti merawatnya dan memberi bangunan itu suatu mantra agar tidak dapat dihancurkan. Dengan mendengar nasehat itu, Belanda pun melakukan sayembara untuk warga sekitar. Belanda membuka Sayembara itu pada pagi hari. Namun hingga hari sudah mulai sore, belum ada satupun orang yang berhasil melompati sungai selebar 45 meter itu, banyak orang yang mati tenggelam karena mencoba melompati sungai tersebut. Warga sekitar pun merasa takut hingga seorang bernama Kyai Abdul Fatah mencoba melompati sungai itu, dia pun berhasil melompati sungai dari barat ke timur, dan Belanda pun memberinya ucapan selamat serta membangunkan jembatan.

Setelah selesainya dibangun, Kyai Abdul Fatah pun memberinya mantra agar jembatan itu tidak dapat dihancurkan. Jembatan yang merupakan bangunan Belanda yang terkenal kuat itu telah mendapatkan mantra dari Kyai Abdul Fatah. Jembatan itu pun diberi nama Jembatan Plengkung karena 3 lengkungan yang terdapat di sisi jembatan. Kondisi plengkungan tersebut hingga saat ini masih nampak keberadaannya, meskipun sebagian sudah mengalami keretakan bangunan.

Pada tahun 1942, tepatnya saat Jepang menguasai nusantara. Jepang pun melanjutkan pemerintahan Belanda di Tulungagung. Belanda tidak terima dicampur tangani oleh Jepang, sebelum meninggalkan Kabupaten tulungagung, Belanda memasang bom di Jembatan Plengkung, Belanda bermaksud untuk mengacaukan pemerintahan Jepang dan memutuskan hubungan pusat perdagangan dengan pusat pemerintahan. Pada akhirnya upaya pengeboman Belanda gagal total. Masyarakat sekitar terkejut melihat Jembatan Plengkung tidak hancur karena dibom oleh Belanda. Masyarakat sekitar percaya bahwa ini karena faktor bangunana Belanda yang terkenal tidak mudah rapuh dan kuat, juga karena faktor diberinya mantra oleh Kyai Abdul Fatah.
Sampai sekarang jembatan itu masih berdiri kokoh, namun hanya perawatan dari warga sekitar dan pemerintah setempat yang kurang memadai. Seiring kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi maka berkembanglah Kabupaten Tulungagung, dan muncul banyak pusat-pusat perdagangan baru. Walaupun jembatan-jembatan baru banyak dibangun,  namun Jembatan Plengkung masih mempunyai fungsi penting dan sangat berpengaruh terhadap masyarakat Kabupaten Tulungagung. Fungsi penting Jembatan Plengkung pada era globalisasi ini adalah penghubung antara dua pasar tradisional yang sangat ramai pengunjung, yaitu adalah Pasar Wage dan Pasar Ngemplak.

Simpulan
Perlu untuk kita sadari, bahwasanya setiap keberadaan bangunan (kuno) yang ada pada suatu daerah, telah memiliki berbagai kesejarahan yang menakjubkan. Dari keberadaan bangunan tersebut tentu bisa untuk ditelusuri keberadaan suatu sejarah di masa kelam. Meronstruksi keberadaan sejarah sangat memerlukan argumen sumber data yang mumpuni dan tentu berani dalam mempertanggungjawabkan keberadaan sumber data itu. Setiap generasi memiliki sudut pandang tersendiri, sehingga perlunya suatu catatan kesejarahan untuk bisa di-interprestasikan pada masa yang akan datang.

Catatan-catatan yang ada akan membentuk sebuah kebersamaan merekonstruksi suatu wujud sejarah. Setiap masa memiliki kesejarahan tersendiri, tentunya sejarah yang unik, dan memiliki makna pendidikan terhadap suatu generasi. Belajar dari sejarah, cerminan bagi suatu generasi agar mereka mampu arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan masanya. Seberapa jauh sejarah itu terjadi, menunjukkan keberadaan nilai-nilai yang bisa dipelajari setiap generasi. Maka benar slogan jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Pendapat itu perlu untuk tetap dijadikan teorika dalam setiap generasi.
Bagi temen-temen yang ingin komunikasi bisa langsung via email: guschod@gmail.com dan terima kasih atas apresiasinya selama ini. Pendokumentasian dalam bentuk tulisan ini merupakan rentetan perjalanan di lapangan.

Follow by Email

PENELUSURAN BLOG

Kontak Persahabatan

Nama

Email *

Pesan *

Artikel Terkini

Klik Gambar Menuju Beranda

Kli Gambar Menuju Koleksi Buku Hasil Penelitian