Minggu, 18 November 2012

“MUSEUMKU; PERLUNYA SENTUHAN TANGAN HALUS UNTUK MENJADIKAN MEDIA PEMBELAJARAN ALTERNATIF

Oleh 
Agus Ali Imron Al Akhyar


Transisi Pembelajaran Dalam Trend Globalisasi Kali Ini Memerlukan Suatu Tindakan Yang Berkelanjutan Demi Perkembangan Pemikiran Anak Didik Dari Seorang Pengajar. Jangan Takut Untuk Dianggap Remeh Kalau Kita Mampu Berbuat Positif.





Kalau kita menengok ke masa silam dengan instant tentunya memerlukan media untuk menjadikan instrumen ke masa silam, yaitu berupa museum. Suatu bangunan yang dijadikan sebagai wadah untuk menyimpan dan melindungi Benda Cagar Budaya (BCB) warisan leluhur. Sehingga keberadaan museum disuatu daerah pada dasarnya sangat dibutuhkan. Museum dapat dijadikan sebagai instrumen pembelajaran peserta didik. Seperti apa yang pernah dimuat di Radar Tulungagung, Jum’at 09 Oktober 2009, kalau saya simpulkan museum perlu untuk dikembangkan dan diberdayakan sebagai media pendidikan.

Sungguh naïf apabila para pelajar tidak mengetahui museum daerah Tulungagung. Sudah saatnya apabila warisan budaya yang tersimpan di museum menjadi alat pengajaran. John Seeley yang mempertautkan masa lampau dengan sekarang, we study history, so that we may be wise before the event. Oleh karena itu, penting pula ungkapan-ungkapan seperti belajarlah dari sejarah atau sejarah mengajarkan kepada kita. Bahkan presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno mengatakan “Jasmerah” yang artinya jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Saya tertarik untuk mengunjungi museum daerah Tulungagung, ketika keberadaan museum daerah tersebut termuat di Radar Tulungagung pada Jum’at 09 Oktober 2009, dengan judul Pantaiku Menenggelamkan Museumku. Betapa kagum dan takjubnya melihat warisan budaya masa lampau. Menurut penjaga museum, bahwasanya anak-anak pelajar sering mengunjungi museum untuk mengerjakan tugas dari gurunya.

Adakalanya Sebuah Sentuhan Tangan Halus
“Alangkah indah dan menariknya apabila keberadaan museum daerah Tulungagung dapat dikembangkan dan diberdayakan sebagai media pendidikan serta rekreasi alternatif.” Semisal dibangunkannya sebuah gazebo istilah trendnya kafe alam. Tentunya menyajikan makanan khas daerah Tulungagung. Sehingga pelajar, masyarakat dan wisatawan tidak bosan mengunjungi museum. Selain itu mereka sambil menikmati makanan khas Tulungagung bisa berdiskusi.

Secara tidak langsung, museum daerah bisa menjadi asset wisata. Seperti hal yang sudah dilakukan di Blitar. Museum daerah Tulungagung secara geografis sangat strategis, sebab berada di jalur utama menuju ke Pantai Popoh. Selin itu di sekitar museum daerah Tulungagung juga terdapat Candi Gayatri, Candi Sanggrahan, Candi Dadi, Gua Selomangleng, Gua Tritis dan situs-situs bersejarah lainnya.

Dengan adanya situs-situs tersebut tentunya dapat dijadikan “Peta wisata Kesejarahan” di daerah Tulungagung yang berpotensi. Generasi muda sekarang secara tidak langsung sudah mengikuti trend mode perkembangan zaman. Akibatnya mereka merasa enggan untuk mempelajari masa lampau (baca: sejarah) melalui museum utamanya. Bagi guru-guru sejarah merupakan tugas mulia untuk bisa mengajarkan peninggalan sejarah di daerahnya sebut saja muatan lokal. Sungguh disayangkan apabila sejarah maupun kebudayaan lokal yang ada di daerah tidak diketahui oleh generasi muda.

Sudah saatnya harus dicanangkan, agar sadar untuk mempelajari sejarah dan kebudayaan yang ada di daerah (baca: muatan lokal). Secara pribadi diri ini sangat berbangga, ketika melihat arca-arca yang tertata rapi di museum, alat permainan anak tradisional tempo dulu, alat musik reog kendang yang estetik. Selain itu, sungguh bisa menghayati manakala di museum diperdengarkan alunan-alunan musik tradisional semacam gending jawa maupun instrument musik.

Sentuhan dari tangan-tangan halus para disiplin ilmu tentunya dapat mengembangkan dan memberdayakan keberadaan museum daerah khususnya di Tulungagung. Pernahkan kita membayangkan kalau anak cucu kita nantinya tidak mengetahui sejarah dan budaya yang ada di daerahnya?. Marilah kita tanamkan cinta sejarah dan budaya daerah. Berbanggalah dengan warisan sejarah dan budaya daerah kita ini. Museumku sementara ini ibarat kuburan dengan bunga kamboja. Sebuah museum menjadi daya tarik pengunjung apabila adanya sentuhan tangan halus disiplin ilmu untuk menumbuhkan kembangkan sebagai asset wisata maupun media pengajaran kesejarahan.

Asset Wisata Warisan Budaya
Ternyata tidak hanya museum saja yang perlu untuk dijadikan instrument pengajaran peserta didik. Candi, makam kuno, makam tokoh Islam, masjid yang bergayakan klasik, rumah bergayakan zaman Belanda serta wisata bahari, merupakan potensi wisata yang sangat besar yang ada di daerah Tulungagung. Mengapa pelajar diharuskan berkunjung ke Candi Borobudur maupaun Candi Prambanan, seandainya candi-candi lokal belum pernah dikunjungi?.

Berbanggalah bagi pelajar yang sudah mengetahui sejarah dan budaya daerah tempat tinggalnya. Warisan budaya yang masih ada, tentunya harus didokumentasikan segera mungkin. Sehingga dilain hari kita tidak merasa bersalah apabila sudah mendokumentasikannya. Ketika kita mengenal sejarah dan warisan budaya daerah, maka kita secara tidak langsung mengetahui jati diri kita, bahwa kita sebagai anak daerah Tulungagung yang bangga dan mencintai hasil budaya asli.
Bagi temen-temen yang ingin komunikasi bisa langsung via email: guschod@gmail.com dan terima kasih atas apresiasinya selama ini. Pendokumentasian dalam bentuk tulisan ini merupakan rentetan perjalanan di lapangan.

Follow by Email

PENELUSURAN BLOG

Kontak Persahabatan

Nama

Email *

Pesan *

Artikel Terkini

Klik Gambar Menuju Beranda

Kli Gambar Menuju Koleksi Buku Hasil Penelitian