Minggu, 11 November 2012

“REYOG KENDHANG” KEARIFAN LOKAL ASAL TULUNGAGUNG

Oleh
 Agus Ali Imron Al Akhyar



Setiap daerah, tentu mempunyai ciri khas bentuk kesenian, maupun budaya yang identik kearifan lokal. Kalau di daerah Ponorogo terdapat Reyog Ponorogo, di daerah Tulungagung terdapat Reyog Kendhang. Sehingga dengan munculnya kearifan lokal yang berupa bentuk kesenian maupun budaya, maka akan membentuk karakteristik pada daerah tersebut. Sering kali kita mendengar maupun melihat di media, bahwa pengeklaiman terhadap kesenian maupun kebudayaan kita terhadap negera lain. Maka dari itulah, penerapan cinta produk lokal harus digalakan.

Produk kesenian lokal, pada dasarnya merupakan penyokong kesenian nasional, itu pasti. Pengukuhan atas Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) terhadap seni budaya yang ada, akan menjadikan kebanggan tersendiri bagi pelaku seniman maupun budayawan yang ada di daerah. Karena dengan adanya pengukuhuan Hak Kekayaan Intelektual, akan membuat rasa kehormatan maupun diperhatikan, sehingga pelaku seniman akan terus meningkatkan kreatifitasnya dalam berkarya.
Seni tradisi yang ada disetiap daerah, memang mempunyai ciri tersendiri, antar daerah pasti berbeda. Seperti halnya antara Reyog Kendhang Tulungagung dengan Reyog Ponorogo, justru dari perbedaan ciri khas tersebut akan memunculkan kekayaan khasanah kesenian. Kearifan seni yang terdapat di daerah, merupakan wujud dari masyarakatnya berbudi luhur, mempunyai etika ramah dan tamah terhadap orang lain.
Persepsi masyarakat mengenai kesenian sekarang ini memang agak setengah luntur, mungkin. Generasi muda sekarang kalau diamati memang pasif terhadap seni tradisi daerah. Media elektronik, Televisi, maupun media yang lainnya, mayoritas menyajikan tayangan dalam format american brain, artinya generasi muda zaman sekarang sudah dicuci otaknya melalui tayangan-tayangan yang lambat laun mejauhkan sifat kedaerahan.
Dengan berkarya dibidang seni, akan menimbulkan rasa keindahan, kedamaian, dan ketentraman, tatkala menikmati apresiasi seni. Seni tradisional mempunyai keunggulan komperatif, dibandingkan dengan kesenian modern yang lebih bersifat elektronis. Sehingga untuk menikmatinya dalam seni tradisional sangat membutuhkan ketajaman perasaan. Sebab bentuk seni tradisional adanya kontak langsung dengan subjeknya, yaitu manusia. Sehingga sudah menjadi hukum baku yang sudah diterapkan dikalangan masyarakat.
Pada saat ini, generasi muda sekarang belum atau mungkin tidak mempunyai ketajaman perasaan (hati) untuk menikmati seni tradisional. Mereka terasa masih canggung untuk melihatnya, bahkan untuk melakoni (melatih diri) terhadap seni tradisional seakan-akan terasa asing. Kesenian dalam memerankannya membutuhkan keseimbangan, maksudnya antara gerak, perasaan, dan pikiran saling mempengaruhi, memang tidak sembarang orang mampu untuk melakukannya.
Aksi serta refleksi kesenian tradisional yang ada di Tulungagung, terutama Reyog Kendhang, merupakan keseimbangan hidup manusia dengan lingkungan. Kesenian Reyog Kendhang sendiri, menyimpan pendidikan nonformal secara tidak langsung dalam bentuk seni gerak. Sehingga dengan berkesenian (Reyog Kendhang), kita seakan-akan bisa mentransformen kearifan hidup, antara tradisi dan perkembangan zaman seperti sekarang.
Hasil mempelajari, bisa dikata penyeimbangan antara gerak dan pendidikan hidup bisa berkesinambungan. Kehidupan berseni itu merupakan proses kearifan lokal bagi sebuah masyarakat. Mungkin, terdapat perbedaan yang signifikan antara masyarakat Tulungagung dan juga masyarakat Ponorogo, itu jelas. Kesenian, salah satu kegiatan (proses) yang menitikberatkan terhadap pembangunan karakter spiritualitas. Orang terdahulu (leluhur) selalu menggabungkan antara mental spiritualitas dengan seni budaya yang ada di lingkungan (masyarakat).
Lingkungan juga mempengaruhi didalam terbentuknya sebuah seni tradisi. Seperti halnya Reyog Kendhang dan Reyog Ponorogo, namanya hampir mirip, tapi dalam bentuk seni gerak maupun filosofinya tentu tidak sama. Meskipun sama-sama namanya reyog, disetiap daerah akan berbeda. Bisa saja di waktu yang akan datang, muncul Reyog Mojokertoan, Reyog Madiunan, Reyog Suroboyoan, dan reyog-reyog lainnya. Siapa menyangka, nanti kearifan lokal disetiap daerah akan muncul dari tidur nyenyaknya, dalam bentuk reyog maupun seni tradisi lain.
Reyog dapat kita katakan merupakan bentuk tarian yang sengat sederhana, sebab si penari (yang menari bersama-sama) masing-masing membawa instrumen sendiri yang berupa gendang. Reyog yang terdapat di Jawa Timur, khusus hanya menari saja. Reyog yang terdapat di Jawa Barat agak berbeda dengan di Jawa Timur. Reyog di Jawa Barat tidak terus menerus menari saja, tetapi ada saat-saatnya berdialog antara penari-penari itu sendiri. Tentang dasar tarian reyog dan instrumennya rupa-rupanya sama saja, antara yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Barat (Babad Tulungagung, belum direvisi, 1971:44).

Reyog Kendhang Asal Tulungagung
Nilai-nilai yang terdapat di kesenian Reyog Kendhang asal daerah Tulungagung ini, mencerminkan sifat kearifan lokal kesenian tradisional. Kesenian sendiri, bersangkutan mengenai proses pembelajaran dari lingkungan untuk manusia. Dari sebuah pengamatan sosial, pola prilaku kehidupan, maupun wacana yang sedang hangat dibicarakan, bisa diproses melalui kesenian, sehingga dari kesenian pulalah kita bisa mengambil sikap dalam menyikapi permasalahan.
Seperti Reyog Kendhang asal daerah Tulungagung, menurut sekilas cerita, bahwasanya asal usul Reyog Kendhang ini berasal dari penolakan lamaran yang dilakukan oleh Putri Dewi Kilisuci terhadap seorang Raja Bugis. Memang leluhur kita, selalu mengaitkan antara peristiwa dengan bentuk kesenian, salah satunya Reyog Kendhang ini.
Menurut cerita yang dituturkan oleh Bapak Endin, Beliau seorang penggerak kesenian dan kebudayaan di Tulungagung, menceritakan dahulu kala ada Raja Bugis yang ingin melamar putri Kediri, yaitu Dewi Kilisuci, akan tetapi yang disuruh melamar adalah prajuritnya. Namun ketika diperjalanan dari Bugis ke Kediri, rombongan mereka kesasar (salah arah) sesampainya di Madiun. Prajurit tersebut kesasar, akhirnya melewati daerah Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung.
Sesampainya di Kota Kediri, setelah bertemu dengan Putri Dewi Kilisuci, prajurit tersebut menyampaikan amanah dari Sang Raja, untuk melamar putri tersebut. Putri Dewi Kilisuci, secara halus mengatakan bahwa menerima lamaran tersebut asalkan Raja Bugis bisa mempersembahkan; (1). Mata ayam tukung sebesar terbang miring digantung di gubuk penceng; (2). Seruling pohon padi sebesar batang kelapa; (3). Dendeng tumo sak tetelan pulut (jadah); (4). Ati tengu sebesar guling; (5). Madu lanceng enam bumbung; (6). Binggel emas bisa berbunyi sendiri.
Namun persyaratan tersebut merupakan kiasan halus untuk menolak lamaran dari suruhan Raja Bugis. Mendengar apa yang diminta oleh putri tersebut, akhirnya prajurit merasa kebingungan, sebab sang raja sudah mengamanahi kalau belum berhasil untuk melamar putri tersebut mereka tidak boleh kembali ke kerajaan. Akhirnya para prajurit berinisiatif untuk menuju ke arah selatan, yaitu ke kawasan daerah Tulungagung.
Akhirnya di daerah Tulungagung para prajurit tersebut meminta tolong pada warga Dhadhap Langu, untuk mengartikan kiasan yang disampaikan oleh Putri Dewi Kilisuci. Dengan adanya bantuan dari warga Dhadhap Langu tersebut, kiasan syarat yang dikatakan prajurit diartikan sekaligus dibuatkan dalam bentuk benda. Adapun makna kiasan dari Putri Dewi Kilisuci tersebut, yaitu; (1). Mata ayam tukung sebesar terbang miring digantung di gubuk penceng, mempunyai makna Gong kempul yang digantung pada gayornya; (2). Seruling pohon padi sebesar batang kelapa, mempunyai makna slompret; (3). Dendeng tumo sak tetelan pulut (jadah), yang mempunyai arti kenong; (4). Ati tengu sebesar guling, yang mempunyai arti iker atau ikat; (5). Madu lanceng enam bumbung, bisa diartikan Dhodhok atau Gemblug yang berjumlahkan enam; (6). Binggel emas bisa berbunyi sendiri, yang diartikan gongseng.
Itulah makna kiasan persyaratan untuk melamar, yang disampaikan oleh Putri Dewi Kilisuci kepada prajurit Raja Bugis. Setelah itu, para prajurit merasa senang dan tenang jiwanya, karena apa yang menjadi ganjalan sudah bisa teratasi. Uniknya ketika mereka, prajurit ingin membawa barang tersebut ke hadapan putri Kediri terbentuklah suatu gerak seni, yang sekarang diaplikasikan pada Reyog Kendhang.
Adapun gerak seni yang tercipta secara alami, diantaranya; peralatan tadi sebelum diserahkan kepada sang putri, sang prajurit berdoa memohon kepada Sang Pencipta Alam, maka para prajurit memandang bawah dan ke atas lalu kekanan-kekiri. Maka terciptanya gerak Sumi Langit (Sundangan). Para prajurit melalui semedi dengan geduk tanah supaya diterima barang-barangnya maka terciptalah gerak Gejoh Bumi.
Para prajurit setelah semedi mengantarkan persembahan (Bebono). Maka tercipta Gerak Joget Menthokan (munduk-munduk). Setelah barang-barang diserahkan maka para prajurit mundur/lengser, maka terciptalah Gerak Patetan. Setelah barang-barang diteliti para prajurit melingkar menyaksikan, maka terciptakah Gerak Joget Lilingan. Setelah dinyatakan cocok diterima barang-barang itu para prajurit kaget terciptalah joget Mindak Kecik Noleh Kanan Noleh Kiri. Para prajurit memuncak kegirangannya, maka tercipta Gerak Joget Andul (engklek). Setelah para prajurit bersenang sang putri khidmat menciptakan sesosok tubuh melesat masuk sumur, prajurit tahu. Semua melihat sumur maka tercipta Gerak Ngungak Sumur. Setelah melihat sumur sangat dalam, maka tercipta joget Kejang Jinjit. Setelah sang putri tidak muncul, hilang, para prajurit berbalik gembyang. Para prajurit merasa tidak berhasil untuk melamarkan Raja Bugis, maka dengan tangan hampa prajurit pulang, terciptalah Gerak Baris Lagi.
Itulah sekilas mengenai Reyog Kendhang asal daerah Tulungagung, pada tahun 2009 telah terdaftar di HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) Indonesia, di Jakarta. Perlu kita menyadarinya, bahwasanya dengan peristiwa yang terjadi di lingkungan bisa dijadikan sebagai bentuk kesenian lokal. Masih belum terlambat, untuk kesenian maupun kebudayaan daerah yang lain untuk di hak patenkan, sebelum negara lain mengambil kekayaan intelektual kita.

Pendidikan Karakteristik Melalui Gerak/Tari
Kesenian tari tidak ubahnya sebagai media pendidikan mental, membentuk karakter kepribadian pada setiap pemain. Kalau kita lihat, berbagai bentuk seni gerak mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda. Tentunya bentuk seni gerak mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan kekuatan batin, seperti yang dapat kita lihat didalam seni gerak Reyog Kendhang.
Seni pertunjukan di Indonesia berangkat dari suatu keadaan, di mana ia tumbuh dalam lingkungan-lingkungan ethnik yang berbeda satu sama lain. Dalam lingkungan-lingkungan ethnik ini, adat, atau kesepakatan bersama yang turun-temurun mengenai perilaku, mempunyai wewenang yang amat besar untuk menentukan rebah-bangkitnya kesenian, seni pertunjukan pada pertunjukan. Peristiwa ke-adatan merupakan landasan eksistensi yang utama bagi pagelaran-pagelaran atau pelaksanaan-pelaksanaan seni pertunjukan. Seni pertunjukan, terutama yang berupa tari-tarian dengan iringan bunyi-bunyian, sering merupakan pengemban dari kekuatan-kekuatan magis yang diharapkan hadir, tetapi juga tidak jarang merupakan semata-mata tanda syukur pada terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu (Sedyawati, 2000:52-53).
Reyog Kendhang sendiri, dipengaruhi oleh peristiwa ditolaknya secara halus lamaran dari Raja Bugis, yang disampaikan oleh prajuritnya. Adapun sebagai pembelajaran, yaitu terjadinya suatu peristiwa dapat dijadikan sebagai bentuk seni gerak/tari yang bermakna. Seperti halnya seni gerak yang terdapat pada Reyog Kendhang berasal dari Tulungagung. Di bawah ini akan dipaparkan gerak tari yang terdapat pada Reyog Kendhang asal Tulungagung, menurut hasil diskusi ngobrol budaya di sekretariatan Kajian Sejarah, Sosial, dan Budaya {KS2B} Kabupaten Tulungagung;
Pertama, Gerak Baris, yaitu gerakan lurus seperti layaknya orang sedang berbaris. Namun dengan dhodhong kerep berada paling depan, kaki berjalan mengikuti irama dari dhodhong. Pada saat tersebut, biasanya menggunakan irama drum band. Irama ini biasanya terjadi saat masuk maupun keluar dari panggung pementasan. Hal ini menggambarkan prajurit berbaris yang sedang membawa barang-barang untuk menuruti permintaan Sang Putri Dewi Kilisuci, seperti apa yang sudah diceritakan di atas tadi. Gerak yang pertama ini mempunyai makna, apabila manusia mempunyai tujuan ataupun pengharapan, harus mampu menyatukan kekuatan dari berbagai arah. Maksudnya kesiapan, kemapanan, dan kekuatan mental lahir batin harus ada.
Kedua, Gerakan Menthokan, yaitu suatu gerak yang berfilosofikan dari hewan Menthok. Sehingga para pemain Reyog Kendhang ini, pada dasarnya berjalan dengan pinggul yang digoyang-goyang, selain itu dengan badan yang mundhuk-mundhuk. Diibaratkan pada gerak menthokan ini, menggambarkan rasa hormat saat menyerahkan barang bawaan kepada sang putri untuk dilamar, dengan badan seakan-akan simbol dari rasa hormat. Gerak yang kedua ini bermakna, sebagai manusia harus memiliki sifat andab asor (merendah), saling menghormati, sopan-santun, dan saling berpengertian.
Ketiga, Gerakan Patettan atau gerak maju mundur, yaitu gerakan dasar, kaki kanan membuka memutar. Gerak ini menunjukan rasa penghormatan dan merendah diri. Makna dari gerak ini adalah sifat rendah diri, sopan dan mampu memberikan pertolongan dengan ikhlas.
Keempat, Gerakan Kejang, yaitu sebuah gerakan berjalan dengan tumit yang diangkat, posisi badan saat itu kaku seperti robot atau orang kejang. Penggambaran gerak kali ini, seperti orang sedang melihat kedalam sumur (ngungak sumur), karena ketidaksampaian akhirnya jinjit. Makna dari gerak kejang kali ini memang sangat mendalam, yaitu kita sebagai manusia yang masih waras harus berpikir secara matang ketika akan melakukan sesuatu hal, agar tidak menyesal dikemudian hari.
Kelima, Gerak Lilingan, yaitu gerakan ngliling namun secara berpasangan, maju berpapasan ngliling lagi. Gerak yang kali ini menggambarkan barang lamaran yang diterima oleh Sang Putri sedang diperiksa, sehingga pada saat itu para prajurit menyaksikan barang yang sedang diperiksa dengan melingkar. Adapun makna dari adanya gerak lilingan ini adalah sebagai manusia, kita seharusnya memang selalu mengingatkan akan kebenaran. Meskipun berjalan tidak searah, namun tetap satu tujuan dan jangan sampai terjadi konflik.
Keenam, Gerak Ngungak Sumur, yaitu suatu gerakan kaki kanan ke arah depan dan belakang. Pada saat kaki kanan ke arah depan, pandangan ke bawah dan ketika kaki kanan ke arah belakang, pandangan ke arah depan, dan begitu selanjutnya. Filosofi dari gerak ngungak sumur ini adalah konon ketika barang lamaran diserahkan dan cocok, karena itu untuk menutupi rahasia kalau tidak mau dilamar, maka sang putri berkhianat dan akhirnya mengelabui para prajurit Bugis dengan dihadirkannya sesosok tubuh berpakaian putih, seperti Sang Dewi yang meluncur masuk ke sumur, maka dengan adanya peristiwa itu para prajurit bersamaan melihat ke arah sumur. Makna dari gerak tari yang satu ini adalah kita sebagai manusia tidak boleh tergesa-gesa untuk mempercayai kabar berita dari orang lain yang belum pasti, sebelum kita meneliti, mengamati, maupun melihat.
Ketujuh, Gerak Gejoh Bumi, yaitu gerakan membungkukkan badan, sedangkan kaki kanan di depan menapak datar, sedangkan kaki kiri di belakang dengan mengangkat tumit dan kaki kiri digejoh-gejohkan ke tanah. Gerak gejoh bumi ini menggambarkan prajurit mulai semedi geduk bumi sebanyak empat kali, lalu berpaling sampai empat kali; satu ke arah selatan, dua ke arah timur, tiga ke arah utara, empat ke arah barat. Maksudnya barang yang menjadi persyaratan untuk melamar sang putri, diridhoi Sang Pencipta Alam. Makna dari gerak gejoh bumi adalah suatu tujuan hidup, pengharapan akan sesuatu, maka harus disertai doa dan usaha, serta dengan rendah hati.
Kedelapan, Gerak Midak Kecik, yaitu sebuah gerak jalan mundur dengan ujung kaki menapak lebih dahulu, kemudian baru tumitnya. Filosofi gerak ini adalah sebauh rasa kegembiraan para prajurit, akhirnya kaki gedruk ke tanah, kegirangan menoleh ke kanan dan kiri, dikarenakan persembahannya telah diterima oleh sang putri. Makna dari gerakan kedepalan ini adalah disetiap ada tujuan maupun pengharapan, pasti akan ada cobaan.
Kesembilan, Gerak Sundangan, yaitu suatu gerak pada bahu dan badan membengkok, atau tepatnya seperti gerakan pada hewan kerbau maupun sapi yang menyundang. Adegan gerak kali ini menggambarkan sebuah permohonan doa restu bumi langit, yang artinya Sang Ibu Bumi Bopo Sang Kuoso, dengan pengharapan agar sesembahan para prajurit diterima. Makna seni tari kali ini adalah manusia pada waktu siang maupun malam, tentunya harus selalu ingat pada Sang Pencipta Alam yang telah menciptakan bumi serta isinya untuk penghidupan makhluk (manusia).
Kesepuluh, Gerak Andul, yaitu gerak sambil jongkok hampir mirip menirukan gaya hewan menthok yang sedang berjalan megal-megol, atau pinggul digoyang. Makna dari gerak ini adalah sebagai manusia harus mampu bijaksana dalam menentukan arah tujuan, melakukan kebenaran dan tidak berbuat kesalahan.
Kesebelas, Gerak Gembyangan, yaitu sebuah gerakan bertumpu pada kaki, kaki kiri dan kaki kanan diayunkan ke kaki kiri. Hal ini menggambarkan dikarenakan sang putri melakukan bunuh diri masuk sumur, maka prajurit membalikan badan. Maknanya adalah manusia (baca; pemimpin) harus mampu memberikan suri tauladan yang baik kepada masyarakatnya (Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani). Manusia harus berpikir menggunakan hati dan pikirannya.
Keduabelas, Gerak Baris, atau gerak hampir sama dengan gerak pertama ketika memasuki suatu panggung. Namun gerak terakhir ini merupakan perjalanan akhir, atau keluar panggung. Menurut filosofinya gerak akhir ini adalah penggambaran gerakan baris pulang dengan tangan hampa. Maknya adalah ketika sudah tercapai akan tujuan kita, maka jangan sampai melupakan (tidak bersyukur) kepada Sang Pencipta Alam, yaitu Gusti Allah Kang Maha Agung, Kuasa Sejagat Alam.
Itulah seni gerak yang terdapat di Reyog Kendhang asal Tulungagung, disetiap geraknya mengandung filosofi kehidupan dalam bermasayarakat dan juga sebagai makhluk kita senantiasa memohon petunjuk kepada Sang Pencipta Alam. Memunculkan kearifan lokal memang sepantasnya diperlukan pada zaman sekarang. Itulah seni masyarakat yang tercipta dari suatu peristiwa.
Model Kostum Reyog Kendhang
Baju atau kostum yang dipakai saat tampil Reyog Kendhang, memang berbeda dengan kostum yang dipakai oleh Reyog Ponorogo. Setiap daerah yang mempunyai kesenian, tentu memiliki ciri kostum yang berbeda. Kostum yang dipakai saat tampil Reyog Kendhang nampak perpaduan warnanya yang mendominasi, sehingga kelihatan cerah dan menawan.
Keseimbangan dan keserasian warna; hitam, putih, merah, kuning dan biru tua, yang lebih unik adalah pemaian Reyog Kendhang memakai kaos kaki yang berwarna putih. Adapun kostum pakaian maupun aksesoris dalam penampilan Reyog Kendhang, diantaranya; iket kepala (udheng), iker-iker (gulingan), kace (kalung berbentuk bulan sabit dari bahan bludru yang dihiasi monte), sampur (selendang), kaos kaki, gurada/jatayu, sumping (hiasan telinga), ter (hiasan di pundak), srempang (hiasan terbuat dari bludru serta disulam monte), deker (hiasan terdapat pada pergelangan tangan), boro-boro, gongseng, gendhongan dhodhong, keris, sabuk, kain panjang, celana, baju putih, dan stagen.
Itulah kostum kebanggaan dari kesenian Reyog Kendhang asal Tulungagung, yang telah menjadi ikon kebanggaan masyarakat daerah Tulungagung. Orang Jawa biasa menyebut Ajining Rogo Soko Busono, Ajining Dhiri Soko Lathi (pengucap), yang terkanal dengan ramah tamahnya, tindak tandhuk, sopan-santun, dan saling menghormati.

Tulisan Penutup
Itulah Reyog Kendhang asal Tulungagung, sarat penuh kearifan pola prilaku. Reyog Kendhang merupakan wujud pengaplikasian dari peristiwa lamaran antara Raja Bugis dengan Sang Putri asal Kediri. Pelajaran yang selalu bersifat universal ini merupakan sebuah kearifan masyarakat. Seni itu indah, penuh dengan makna yang tersembunyi, dengan hatilah kita bisa untuk menikmatinya. Dari senilah kita bisa merasa puas dan tentram. Berangkat dari peristiwa maupun imajinasi yang terkontrol oleh tatanan norma masyarakat. Refleksi pola prilaku manusia, bisa membentuk kesenian yang normatif.
Pembelajaran berarti ilmiah, pendidikan adalah mendewasakan karakteristik khususnya pada generasi muda. Fitrah sebagai manusia (generasi muda) adalah berdialog, berdialog dengan seni, berdialog dengan alam, berdialog dengan sesama manusia, dan berdialog dengan waktu, itulah fitrah sebagai manusia yang ingin belajar. Hidup merupakan pembelajaran yang konkrit, dari kehidupan (peristiwa) terbentuk suatu karya yang sarat dengan kearifan.
Pendidikan merupakan proses pembentukan karakter (generasi muda), agar lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Namun gejala yang ada pada zaman sekarang adalah generasi muda menginginkan segala sesuatu menjadi instan. Belajar itu memerlukan proses, dari proseslah kita dapat mengambil hikmah dari belajar itu sendiri. Proses merupakan seni, dalam membentuk kepribadian yang berbudi luhur serta bijaksana. Proses dalam hidup adalah pendidikan konkrit bagi manusia, sebenarnya.
Dari berkesenianlah, kita mampu untuk memupuk rasa bangga, rasa memiliki, rasa menghargai warisan leluhur. Berkesenian memang dapat mentransformen kearifan lokal yang ada pada masyarakat, untuk menciptakan kebaikan dalam berprilaku, maupun untuk menyampaikan pesan kebaikan. Berkesenian dapat dipahami sebagai wujud ekspresi dari kepribadian yang terdiri unsur-unsur cipta, rasa, maupun karsa. Sehingga apabila diasumsikan, bahwasanya hati (perasaan) mendasari terbentuknya suatu kesenian.
Pada saat sekarang ini, yang perlu diadakan adalah motivasi berkesenian. Motivasi dalam berkesenian memang harus terus ditumbuhkan. Memang untuk menumbuhkan motivasi berkesenian tidak semudah apa yang kita bayangkan. Perlunya sinergi positif serta aktif, antara manusia dan lingkungan. Berkesenian merupakan wujud alamiah antara manusia dan lingkungan, sehingga penyaringan zaman yang akhirnya menentukannya.
Zaman sekarang, mayoritas masyarakat menginginkan sesuatu hal yang instan, agar mereka lekas mendapatkan kepuasan batin. Namun berkesenian memerlukan sebuah proses lama, akhirnya membentuk suatu kesenian yang mempunyai nilai jual tinggi. Reyog Kendhang dan Reyog Ponorogo, pada awalnya juga memerlukan proses lama, hingga akhirnya terwujud kesenian yang bisa diterima masyarakat sekarang.
Kini dengan mudah kita dapat mendapatkan kesenian tersebut dalam bentuk Audio Visual (VCD dan DVD). Sehingga dengan mudah kesenian tersebut dapat dikenal oleh masyarakat luas. Perlunya penyadaran berkesenian sejak dini memang sangat dibutuhkan, seperti halnya Reyog Kendhang asal Tulungagung. Sebelum di Hak Patenkan pada tahun 2009 kemarin, sekolah-sekolah di daerah Tulungagung tidak mempunyai ekstra kesenian Reyog Kendhang. Namun setelah di Hak Patenkan dan dipublikasikan, sekarang disetiap lembaga pendidikan baik itu SD, SMP, dan SMA, sudah mempunyai ekstra kesenian Reyog Kendhang.
 Setiap masyarakat (daerah) pasti mempunyai kesenian yang dibanggakan. Dengan berkesenian secara tidak langsung akan mendidik generasi muda untuk mencintai hasil karya daerah, sifat kearifan, dan memiliki rasa memiliki. Sehingga dengan itu kesenian lokal akan mengembang menjadi kekayaan nusantara. Seni tidak mengenal umur, bahkan bayi yang baru lahir pun sudah memiliki seni menangis, yang membuat bahagia kedua orangtuanya, itulah seni. Jiwa seni manusia memang sudah ditanamkan sejak masih kecil, tergantung bagaimana kita nantinya mengolah jiwa seni itu menjadi sebuah karya agung.۞
Bagi temen-temen yang ingin komunikasi bisa langsung via email: guschod@gmail.com dan terima kasih atas apresiasinya selama ini. Pendokumentasian dalam bentuk tulisan ini merupakan rentetan perjalanan di lapangan.

Follow by Email

PENELUSURAN BLOG

Kontak Persahabatan

Nama

Email *

Pesan *

Artikel Terkini

Klik Gambar Menuju Beranda

Kli Gambar Menuju Koleksi Buku Hasil Penelitian