Senin, 24 Desember 2012

Berburu Sejarah Pusaka Kiai Upas

     Oleh 
Muhammad Badrul Huda


Jum’at, 30 November 2012. Hari ini ada upacara Jamasan Kiai Upas di pendapa Kanjengan, Kepatihan, Tulungagung, kami berencana untuk menghadiri prosesi upacara tersebut. Namun, ada sedikit halangan yang menyebabkan kedatangan kami terlambat, bahkan dapat dianggap sebagai sangat terlambat, karena kami tiba disaat upacara selesai, sungguh suatu kejadian yang amat disesalkan.


Dari madrasah, kami berangkat sekitar pukul 09.45 WIB, tepatnya ketika jam istirahat, dan kami tiba di lokasi upacara sekitar pukul 10.15 WIB. Ketika sampai kami sudah disambut oleh acara terakhir yaitu salam penutup, sehingga kesana yang kami dapatkan adalah kekecewaan karena kedatangan kami yang terlambat. Namun kami sempat mewawancarai salah satu tamu undangan yang biasa dipanggil Pak Agung, beliau menuturkan tentang sejarah keberadaan tombak Kiai Upas versi keluarga RM. PringgoKusumo, bupati Ngrowo yang ke-10.

Diawali dari keberadaan Ki Wonoboyo, beliau pernah meminjamkan sebuah pusaka kepada seorang perempuan dengan syarat tidak boleh meletakkan pusaka tersebut di pangkuan. Tetapi, larangan tersebut dilanggar karena lupa, setelah itu pusaka tersebut menghilang, dan hamillah perempuan tadi. Ketika melahirkan, ternyata yang keluar adalah seekor ular, yang kemudian diberinama Baru Klinthing, istimewanya ular tersebut dapat berbicara layaknya manusia.

Setelah dewasa, sang Baru Klinthing ingin mengetahui siapakah ayahnya, kemudian ibunya memberitahukan bahwa Ki Wonoboyo adalah ayahnya. Lalu Baru Klinthing pergi mencari Ki Wonoboyo dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan sebagai anak, pencariannya menuai hasil dengan menemukan Ki Wonoboyo sedang bertapa di puncak gunung Merapi. Ki Woboboyo akan mengakui Baru Klinthing sebagai anaknya jika sang ular mampu melingkari puncak Merapi dengan tubuhnya. Baru Klinthing menyanggupi, namun ketika hampir berhasil, dia menjulurkan lidahnya untuk menutupi kekurangannya ketika melingkari puncak Merapi. Hal tersebut diketahui Ki Wonoboyo yang kemudian memotong lidah Baru Klinthing yang berubah menjadi mata tombak. Setelah itu Baru Klinthing melarikan diri ke laut selatan, tetapi terus dikejar oleh Ki Wonoboyo, sesampainya di tepi laut Baru Klinthing menceburkan diri ke laut, yang kemudian berubah menjadi kayu, selanjutnya oleh Ki Wonoboyo digunakan untuk gagang tombak. Akhirnya tombak tersebut dinamakan dengan tombak Kiai Upas.

Sepeninggal Ki Wonoboyo, tombak Kiai Upas diwariskan kepada putranya yang bernama Ki Ajar Mangir. Menerima warisan berupa tombak Kiai Upas tersebut menyebabkab Ki Ajar Mangir menjadi sakti dan berniat mbalela atau memberontak kepada pemerintahan Mataram. Mempertimbangkan kesaktian Ki Ajar Mangir, Matarampun mengirim satu grup karawitan ke Ki Ajar Mangir, dan ternyata Ki Ajar Mangir tertarik kepada seorang sindhen yang ternyata adalah putri raja Mataram dan melamarnya. Sang putri kemudian memintanya untuk sowan kepada raja Mataram yang kini menjadi mertuanya, walaupun sebenarnya adalah musuhnya sendiri. Sehingga berangkatlah Ki Ajar Mangir menuju keraton Mataram untuk sungkem kepada mertuanya, namun ia meninggalkan tombak Kiai Upasnya di luar pintu gerbang. Dari peristiwa ini dapat dikaitkan pada peritstiwa temanten, ketika mempelai laki-laki akan sungkem kepada orang tuanya, terlebih dahulu melepaskan keris yang menjadi simbolisasi sebuah pusaka.

Kembali pada cerita, saat Ki Ajar Mangir sungkem, pada saat itulah sang raja Mataram membenturkan kepala Ki Ajar Mangir ke tempat duduk yang terbuat dari batu pualam hingga meninggal, bekas benturan tersebut masih dapat ditemukan di Kota Gede dan dikenal sebagai “Watu Gateng”. Kemudian jasad Ki Ajar Mangir dimakamkan di perbatasan antara benteng kerajaan, sehingga sebagian tubuh Ki Ajar Mangri berada di luar benteng dan sebagian lagi ada di dalam benteng, hal tersebut menunjukkan bahwa Ki Ajar Mangir, walaupun merupakan musuh kerajaan juga dianggap sebagai menantu sang raja. Kemudian tombak Kiai Upas diserahkan kepada Bupati Ngrowo yang pada saat itu dijabat oleh RM. Pringgo Kusumo yang kemudian terus dijaga secara turun temurun.

Ada satu hal yang unik pada prosesi penyiraman tombak Kiai Upas ini. Yaitu dengan adanya air yang digunakan untuk prosesi penyiraman yang berupa air dari tujuh sumber mata air. Kemudian ketika prosesi penyiraman, hanya pengunjung laki-laki saja yang boleh melihtanya, dikarenakan tombak Kiai Upas ini dianggap berjenis kelamin laki-laki.
           

Bagi temen-temen yang ingin komunikasi bisa langsung via email: guschod@gmail.com dan terima kasih atas apresiasinya selama ini. Pendokumentasian dalam bentuk tulisan ini merupakan rentetan perjalanan di lapangan.

Follow by Email

PENELUSURAN BLOG

Kontak Persahabatan

Nama

Email *

Pesan *

Artikel Terkini

Klik Gambar Menuju Beranda

Kli Gambar Menuju Koleksi Buku Hasil Penelitian