Sabtu, 29 Desember 2012

TULUNGAGUNG PUNYA NAMBANGAN SUNGAI BRANTAS


Oleh 
Agus Ali Imron Al Akhyar



Sarana transportasi tidak hanya yang ada di darat, seperti jalanan yang sering kita ketahui dan kita lewati setiap hari. Namun kali ini sarana transportasi yang masih ada, dan juga sering dipergunakan oleh masyarakat, serta dijadikan sarana transportasi alternatif, yaitu nambangan. Transportasi yang satu ini memang nampak klasik, dan juga cukup sederhana, dengan menggunakan perahu yang sekiranya kuat untuk menompang keberadaan kendaraan warga yang ingin menyeberang ke lain daerah.

Nambangan di daerah Ngunut, tepatnya di Desa Buntaran ini memang sering menjadi alternatif penyebarangan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan kurun waktu 24 jam nonstop setiap harinya. Pekerja dalam perahu ibaratnya sebagai ABK (Anak Buah Kapal) saat menjalankan perahunya sebanyak empat orang, kadang dipinggiran sungai ada dua orang. Dengan sifat kegotongroyongan tinggi, mereka para ABK sangat hati-hati dalam menjalankan tugasnya untuk menyeberangkan masyarakat.

Tarif satu kali menyeberang bermacam-macam, adapun kalau sepeda dikenakan tarif Rp 1.000,-. Sedangkan kendaraan montor Rp 2.000,- dan mobil Rp 5.000,- kurang lebihnya tarif normal seperti itu yang dikenakan. Banyak warga yang sering mempergunakan sarana transportasi “nambangan” tersebut, karena untuk mempermudah akses jalan antara dua daerah, Ngunut selatan sungai brantas dan Blitar bagian utara sungai brantas. Perjalanan penyebarangan tidak membutuhkan waktu lama paling maksimal kisaran lima menit untuk menyeberang. Kemarin pada tanggal 28 Desember 2012 pukul 15:42 WIB keadaan air sungai berantas sangat deras sekali alirannya, saya sendiri agak takut, namun karena banyak warga yang mau menyeberang akhirnya ketakutan tersebut berkurang.

Keadaan geografis nambangan tersebut sangat eksotik dan juga masih nampak alaminya, nambangan yang saya tuliskan ini tepatnya jalan, berada di sebelah utara SD Negeri Buntara, Kecamatan Rejotangan. Jalan menuju nambangan sendiri masih berkelok-kelok, dan juga kanan-kirinya masih banyak ditanami dengan istilah suket gajah, sebagai makanan ternak. Sarana transportasi nambangan yang menghubungkan antara daerah Tulungagung-Blitar, Tulungagung-Kediri (utara dan selatan sungai brantas), jumlahnya lumayan banyak, sekitar ± 10 nambangan, dan juga sampai sekarang masih dipergunakan.

Nambang(an)
Masyarakat umum sering sekali menyebutnya nambang. Keberadaan nambang ini untuk menyingkat jarak tempuh agar lebih dekat, dan juga tidak memerlukan biaya mahal. Nambangan diadakan keberadaannya karena tidak ada jembatan yang menghubungkan kedua daerah. Nambangan adalah tempat penyeberangan alternatif yang menggunakan perahu tradisional, yang ditompang dengan tali besi baja yang menjulur antar tepian sungai, hal itu untuk memperkuat perahu agar tidak terlalu terbawa arus sungai.

Perahu yang dipergunakan masih tradisional, selain itu juga dipergunakan mesin untuk menggerakkan badan kapal, dan juga ada satu orang yang mengayunkan sampan agar bergerak. Sehingga dengan posisi kerjasama yang penuh, agar perahu tersebut begerak dari tepian ke tepian berikutnya. Maksimal yang menumpang dalam perahu tersebut dalam satu kali jalan mayoritas 10 kendaraan montor, kalaupun mobil hanya 1 mobil saja sekali jalan.

Nambang merupakan kata sifat untuk menyeberang melewati sungai dengan satu kali jalan, yang mengubungkan kedua daerah. Sedangkan nambangan adalah tempat atau lokasi keberadaan perahu untuk menambang agar mempesingkat jarak tempuh antar dua daerah. Daerah yang masih kita dapati keberadaan nambang ini diantaranya; Ngunut, Tulungagung, Blitar, Kediri, Mojokerto, dan Gresik. Tentunya daerah nambangan itu ialah daerah yang dialiri sungai besar, seperti di daerah yang dialiri sungai brantas.

Keberadaan nambangan memang harus dilestarikan untuk menjaga kultur klasiknya. Selain itu kalau dikembangkan dengan baik, pinggiran sungai brantas bisa dijadikan alternatif asset wisata daerah. Namun juga harus mempunyai standar keselamatan sungai yang baik pula, karena kita akan rugi kalau tidak ada nambangan yang bisa membantu masyarakat.
Bagi temen-temen yang ingin komunikasi bisa langsung via email: guschod@gmail.com dan terima kasih atas apresiasinya selama ini. Pendokumentasian dalam bentuk tulisan ini merupakan rentetan perjalanan di lapangan.

Follow by Email

PENELUSURAN BLOG

Kontak Persahabatan

Nama

Email *

Pesan *

Artikel Terkini

Klik Gambar Menuju Beranda

Kli Gambar Menuju Koleksi Buku Hasil Penelitian