Sabtu, 09 Maret 2013

“TULUNGAGUNG PUNYA” MONUMEN MANUSIA PURBA WAJAKENSIS (Deskripsi Bangunan Monumen Manusia Purba Wajakensis)

Setiap daerah tentunya harus bahkan bisa dihukumi wajib untuk memiliki ciri khas yang menjadi ikon atau simbol dari keberadaan daerah tersebut. Seperti halnya daerah Tulungagung, setidaknya harus memiliki ciri khas kedaerah, salah satunya keberadaan Monumen Manusia Purba Wajakensis. Mengapa? Karena kalau kita renungkan bahkan kita pikir, keberadaan penemuan manusia purba homosapiens Wajakensis yang berada di kawasan Tulungagung selatan, merupakan suatu kebanggaan yang sangat amat, sebab daerah yang kita banggakan ini merupakan daerah penyokong kesejarahan baik nasional maupun internasional.

Daerah Tulungagung, merupakan kawasan kecil yang berada di selatan ibu kota Propinsi Jawa Timur, kurang lebih 125 Km ke arah selatan dari Kota Surabaya. Daerah ini memang tidak kalah dengan daerah yang lain, berbagai potensi kesejarahan tersimpan banyak, dan bahkan sebagian belum tergali dengan apik. Berlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, potensi kesejarahan khususnya akan tergali untuk menjadi identitas kebanggaan masyarakat Tulungagung khususnya, tentunya umumnya bagi kesejarahan nasional maupun internasional.

Saat ini keberadaan kesejarahan skala lokal mulai dibangkitkan, untuk mewujudkan kesejarahan yang dinamis kenasionalan. Kita ketahui, keberadaan penemuan Manusia Purba Homosapiens yang diberi nama Wajakensis ini merupakan kesejarahan yang sudah berskala internasional, dunia mengakui. Sehingga sangat tepat dan benar, apabila keberadaan Bangunan Monumen Wajakensis ini dibangun sebagai tugu peringatan simbolisasi penemuan manusia purba homosapiens. Monumen merupakan simbolisasi apa yang pernah terjadi pada waktu lalu, Tulungagung Punya monumen Manusia Purba Homosapiens yang bernama Wajakensis.

FILOSOFI MONUMEN
Setiap bangunan tentunya memiliki makna yang mewakili dari setiap keinginan, begitu pula dengan keberadaan bangunan monumen manusia purba Wajakensis yang akan dibangun di lokasi Distrik Wajak, tepatnya di Tulungagung kawasan selatan. Manusia purba homosapiens yang ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 tersebut merupakan penemuan yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat Tulungagung. Namun dikarenakan lemahnya bukti-bukti yang seharusnya menjadi penyokong kebanggaan warga Tulungagung tersebut telah tiada.

Setidaknya bangunan monumen tersebut mewakili sebagai bukti pernah diketemukannya tengkorak manusia purba di Tulungagung selatan. Meskipun keberadaan tengkorak tersebut sekarang berada di Negara Belanda, setidaknya kita patut bangga karena daerah Tulungagung tercatat dalam dunia kesejarahan nasional dan internasional.

Monumen ini Terletak di Desa Wajak, Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Monumen ini merupakan monumen sejarah tentang ditemukannya manusia Purba pertama  di Indonesia.
Lambang C pada Monumen ini mengahadap ke arah Gua lawa, yaitu tempat ditemukannya fosil manusia purba. Huruf C pada monumen ini diartikan sebagai Cikal Bakal ditemukannya fosil manusia purba pertama di Indonesia. Fosil Homo Wajakensis ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di desa Wajak, Tulungagung selatan yang berdekatan dengan Pantai Popoh.

Fosil yang asli Homo Wajakensis sekarang disimpan di Museum Leiden Belanda “Rijksmuseum Van Natuurlijk Historie Leiden” Di dalam Museum ini terdapat Skestsa tentang situs wajak yg diproduksi ulang oleh Van Brink 1982.

Fosil itu dinamai Homo Wajakensis, karena termasuk dalam jenis Homo Sapien (manusia yang sudah berpikir maju). Fosil Homo Wajakensis mempunyai tinggi badan sekitar 130—210 cm, dengan berat badan antara 30-150 Kg. Volume otaknya mencapai 1300 cc. Manusia purba jenis ini hidup antara 40.000-25.000 tahun yang lalu, pada lapisan Pleistosen Atas. Apabila dibandingkan jenis sebelumnya, Homo Wajakensis menunjukkan kemajuan.

Makanannya sudah dimasak walaupun masih sangat sederhana dan sudah mengenal alat alat sederhana dari batu. Tengkorak Homo Wajakensis memiliki banyak persamaan dengan tengkorak penduduk asli Australia, Aborigin. Oleh karena itu, Eugene Dubois menduga bahwa Homo Wajakensis termasuk dalam Ras Australoide, bernenek moyang Homo Soloensis dan menurunkan bangsa Aborigin. Fosil Homo Wajakensis juga memiliki kesamaan dengan fosil manusia Niah di Serawak Malaysia, manusia Tabon di Palawan, Filipina, dan fosil-fosil Australoid dari Cina Selatan, dan Australia Selatan.