Membahas adanya asal usul suatu kawasan, desa, dan kelurahan yang ada di daerah Tulungagung, memang tidak ada henti-hentinya. Selalu ada apa yang harus didokumentasikan secara utuh serta apa adanya menurut realita berdasarkan sumber data yang maupun tutur lisan. Maka dari itu dengan segala daya dan upaya akan menyajadikan mengenai kesejarahan asal usul suatu desa/kelurahan yang terdapat di daerah Tulungagung. Sebuah kawasan yang berada di pesisir selatan dari Ibu Kota Propinsi Jawa Timur.
BLOG TUTUR TULIS TULUNGAGUNG
Kamis, 27 Oktober 2016
Rabu, 19 Oktober 2016
SEJARAH; MENELUSURI AKTE KELAHIRAN

Jumat, 17 Juni 2016
ASAL USUL KELURAHAN BOTORAN

ASAL USUL KELURAHAN KAMPUNGDALEM

Minggu, 12 Juni 2016
MASJID TIBAN DAN MAKAM SUNAN KUNING ANTARA SEJARAH DAN CERITA LISAN ISLAM
Jumat, 20 November 2015
NAMA-NAMA ADIPATI HINGGA BUPATI TULUNGAGUNG
Keberadaan suatu daerah tentu memiliki asset yang tidak bisa dipungkiri lagi, khasanah kekayaan menjadikan potensi tersendiri didalam memberikan asupan kebaikkan kepada suatu daerah. Tak terlepas dari adanya adipati atau sosok kepemimpinan Bupati (untuk jaman sekarang), memiliki pengaruh yang signifikan didalam mengembangkan dan memberdayakan potensi yang ada di suatu daerah, tepat di Tulungagung. Sosok bupati merupakan tokoh masyarakat dan juga publik figur yang harus mampu mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, maupun golongan.
Jumat, 26 Desember 2014
SEKEDAR MENGENANG SEJARAH JEMBATAN PLENGKUNG MANGUNSARI
Sejarah merupakan sebuah tragedi yang menarik
untuk diceritakan dan tidak hanya sekedar untuk dipelajari, terutama mengenai
kesejarahan lokal yang ada di daerah masing-masing. Keberadaan sejarah lokal,
memiliki nilai positif bagi sebuah generasi untuk memahami hakikat keberadaan
sejarah daerahnya. Sehingga sejarah lokal memiliki
peran penting didalam
membangkitkan gairah sebuah daerah, dengan adanya sebuah sejarah, maka
terwujudlah sebuah generasi-generasi yang akan membentuk peradaban sejarah.
Sejarah menjadi wejangan penting untuk generasi muda, sejarah dapat dijadikan
media pembelajaran anak didik. Meskipun kadang sejarah juga menyimpan keburukan
masa lalu, namun tidak bisa dipisahkan bagi sebuah generasi yang akan
menilainya.
Jumat, 01 Agustus 2014
FOLKLOR KHASANAH TUTUR LISAN
Kultur atau kebudayaan, yang memiliki khasanah kekayaan dalam setiap nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut, merupakan wujud harmonisasi antara manusia, lingkungan, dan kebudayaan. Apapun yang terdapat di kalangan masyarakat, bahwasanya kultur atau kebudayaan merupakan anugerah yang tidak ternilai keberadaannya, saat itulah kultur mengakar kuat pada masyarakat. Jelas sudah bahwasanya masyarakat memiliki peran penting didalam membudaya, dan menghasilkan budaya itu sendiri.
“MUSEUM MINI SEKOLAH “ SEBAGAI TEMPAT ALTERNATIF PROSES BELAJAR ANAK DIDIK TINGKAT SMA/MA SEBAGAI BENTUK MEMAHAMKAN MATERI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Proses
pembelajaran merupakan indikasi untuk pemahaman materi terhadap anak didik.
Sebagai pengajar membiasakan proses mengajarnya selalu ada pembaharuan, secara
tidak langsung anak didik tidak merasa bosan ataupun jenuh. Selama ini
mayoritas mengajar masih menggunakan metode ceramah, dan penggambaran pola
pikir secara abstrak, sehingga anak didik masih mengalami kesulitan secara
pengaplikasian sebuah contoh materi ajar. Sehingga dengan
Sabtu, 26 Juli 2014
SEKILAS NYADARAN

Sadranan, atau biasa disebut dengan nyadran bagi orang
Jawa. Sadranan sendiri yang penulis pernah ketahui, dilaksanakan di area
pundhen makam dengan menggelar tikar sebagai alas. Selain itu juga disertai
dengan sesajen yang diwadahi tampah, loyang, dan ember seperti: gunungan nasi
kuning, apem, ayam yang diolah ingkungan, kulupan, sambal goreng kentang, tahu
yang dibumbui, dan air putih yang dimasukin dalam wadah kendhi. Pelaksanaan
nyadran sendiri pada waktu pagi hari, atau sore hari, adapun siang hari tapi
pelaksanaannya jarang, dan dipimpin oleh dukun atau tokoh masyarakat setempat yang
biasanya dibawa oleh orang penyadran. Di dalam pelaksanaan sadranan, warga
setempat juga turut diundang sebagai makmum (peserta sadranan).
Selasa, 17 Juni 2014
EKSPEDISI KESEJARAHAN NGANGGREK Ds/Kec. KALIDAWIR
Ekspedisi kali ini berawal dari komunikasi
singkat antara mas Koko dengan Agus Ali Imron Al Akhyar melalui akun media
sosial facebook. Tepatnya pada tanggal 17 Maret 2014, komunikasi tersebut
berlanjut melalui telephone. Sehingga setelah ada komunikasi secara berkala,
akhirnya tim ekspedisi dari Kajian Sejarah, Sosial, dan Budaya (KS2B
Tulungagung) langsung menindaklanjuti dengan melakukan kunjungan langsung ke
daerah yang menjadi ekspedisi kali ini.
Senin, 03 Maret 2014
KENANGAN KEBERADAAN GARDU DAN ANGKRENG
Sering kali kita melihat atau bahkan cangkrukan (nongkrong) di
sebuah Gardu dan angkreng. Biasanya Gardu dan angkreng yang terdapat di
desa-desa saat pemilihan lurah, penuh dengan tempelan foto-foto si
calon. Di Gardu dan angkreng biasanya juga terdapat alat komunikasi tradisional
bagi warga, yaitu kentongan. Alat pukul yang berupa kentongan tersebut akan
menjadi media komunikasi warga ketika; ada orang yang meninggal, warga akan
gugur gunung; bersih desa, bersih kuburan, dan kentongan akan ditabuh ketika
ada bencana.
Rabu, 19 Februari 2014
BELAJAR SEJARAH
Mendokumentasikan, membukukan, merawat, suatu
kesejarahan, merupakan tugas bagi generasi yang masih sadar akan keberadaan
kesejarahan lokal yang ada di daerahnya. Sebuah generasi harus mampu dengan
optimal untuk mempelajari kearifan lokal yang terdapat pada daerahnya. Jangan
sekali meninggalkan sejarah, suatu kata kiasan dari Ir. Soekarno yang
mengingatkan pada setiap generasi untuk selalu mempelajari sejarah.
Langganan:
Postingan (Atom)